Kapanlagi. com – Jemaah sempat dibuat heboh dengan kehadiran Happy Hariadi yang memperkarakan Anofial Asmid Halilintar dengan tuduhan mendiamkan anak hasil pernikahan mereka, Oktober 2019 lalu. Tak hanya mendatangkan persoalannya ke Lembaga Negara, LPAI, Happy juga membuat laporan penjaga di Polres Metro Jakarta Daksina dengan tuduhan penelantaran dan segregasi anak.

Saat itu, laporan Happy terhadap ayah dibanding Youtuber Atta Halilintar itu, masih diproses pihak kepolisian. Menurut pengaruh hukum Halilintar, Rhaditya Putra Perdana, sejatinya kedua belah pihak telah pernah melakukan mediasi.

“Mediasi sudah kami lakukan. Beta ketemu sama kuasa dari lawan di rumah saya. Pertemuan itu gunanya bangun musyawarah bangun seia, kekeluargaan, karena itu yang menjelma pesan klien saya. Hargai, patuhi, jalani proses peristiwa hukum itu yang ada, ” kata Rhaditya di Jakarta, Sabtu (31/10/2020).

satu. Tidak Mencapai Mufakat

Namun mediasi saat itu tak menghasilkan titik temu. Ada satu poin, dikatakan Rhaditya meniti sebuah ilustrasi yang membuat mediasi tidak mencapai kata mufakat.

“Saya berikan sedikit ilustrasi saja. Seseorang datang ke vila pak RT untuk minta maaf dan berniat untuk mencari solusinya, solusinya apa ya mufakat. Jika kita dari muslim ada tabayun. Tapi manusia tersebut sama pak RT ini mau memediasikan kalau merasa ada terlalu komersil di sini. Jadi perdamaian ini belum mencapai kata mufakat. Itu ilustrasi sejak saya, ” tuturnya.

2. Ada Benteng Luhur

Rhaditya juga mengucapkan, saat ini ada sebuah perlindungan besar yang menghalang-halangi hubungan jarang kliennya dengan sang anak. Padahal, kata Rhaditya, kliennya selama tersebut sudah membangun komunikasi yang bagus.

“Kalau anak ini mau ketemu, kami pun bakal ketemu. Tapi anak ini sedang dalam kontrol ibunya, hak asuhnya masih di ibunya. Kita mau ketemu anaknya saja dibatasi, ” tuturnya.

Simak Juga: